Hari ini, anakku memperingati hari ulang tahunnya yang ke-5. Rasanya baru kemarin-kemarin saja ia dilahirkan, tahu-tahu sudah genap usianya lima tahun. Tentu saja kami, orang tuanya, berbahagia atas kelahiran dan kehadirannya sejak hari pertama ia dilahirkan.
Saat ia dilahirkan, pukul 16.25 WIB, Sabtu 18 Januari 2003 di Majalengka, aku mengadzaninya di telinga kanannya, mengumandangkan iqomat di telinga kirinya, mengoleskan madu ke bagian atas tenggorokannya disertai bacaan al-Ikhlash, al-Fatihah dan ayat kursi. Semua keluarga bergembira, setelah hampir 17 jam istriku meregang nyawa untuk melahirkannya (ternyata tali pusarnya membelit di leher). Mereka bersorak, bertasbih dan berpelukan saat terdengar suara tangis pertamanya. Neneknya memandikannya. Kakeknya membacakan doa-doa untuk kebahagiaannya. Ibunya tersenyum gembira, walaupun seluruh tenaganya hampir habis. Semua bahagia. Aku dan istriku mendapat banyak ucapan selamat. Aku sendiri langsung menelpon kedua orangtuaku, mengabarkan kelahirannya.
Malam-malam pertama menjadi bapak, aku jalani seolah bermimpi. Setengah percaya setengah tidak kalau akhirnya aku dipercaya mengemban amanat seorang anak laki-laki dari Yang Maha Kuasa. Setiap kali tidur, aku begitu sering terbangun. Ingin memastikan bahwa aku benar-benar seorang bapak. Ingin memastikan ia tidak apa-apa, terlindungi tidurnya dari gangguan yang mungkin ada.
Hari ke-21 kami mengumumkan kelahirannya kepada para tetangga dan handai taulan. Kami mengundang mereka untuk menyaksikan dan memberi doa atas kelahirannya dengan menyembelih dua ekor domba sebagai aqiqah, ungkapan rasa syukur kami atas kedatangannya. Kami undang tetangga untuk membacakan doa-doa. Kami lakukan marhabanan dengan harapan mendapat berkah dari Sang Rasul akhir zaman. Kami panjatkan doa-doa untuk leluhur-leluhur kami, semoga Allah menyampaikan kepada mereka, bahwa telah lahir seorang penerus yang akan memuliakan mereka. Seluruh keluarga di undang. Dari pihak istriku seluruh keluarga besarnya hadir. Buyutnya, kakek istriku, membacakan doa, diamini seluruh keluarga termasuk bibi-bibiku, paman-pamanku, serta kedua kakek nenekku (yang dalam hari-hari biasa, bahkan lebaran sekalipun, sangat jarang bisa berkumpul).
Kami memberinya nama. Mikail Soroush Sadrazaki. Neneknya –ibu istriku- memanggilnya Encep, panggilan sayang orang Sunda untuk anak laki-laki, namun kemudian hari ia lebih sering memanggil anakku dengan panggilan Yayang, seperti kebiasaan istriku. Aku sendiri lebih suka memanggil dengan namanya, Mikal.
Hari-hari setelah kelahirannya terasa sangat indah. Saat ia tidur, bangun, mulai bicara, merangkak, naik kursi roda terasa sangat menyenangkan. Ia selalu terbayang di pelupuk mataku, saat aku pergi bekerja atau ke luar kota. Saat itu aku baru benar-benar percaya bahwa kerinduan kepada anak dapat melebihi kerinduan kepada istri. Di masa-masa itu istriku sering melatih senam bayi kepadanya, tentu saja berdasarkan petunjuk buku dan ahli kesehatan. Kami perdengarkan kepadanya, setiap hari, musik klasik dan bacaan Qur`an, sebagaimana kami biasa melakukannya saat ia masih dalam kandungan.
Usia lima bulan, saat aku sedang ceramah di Tajugku, anakku yang waktu itu dibawa istri dan ibuku, tiba-tiba bangun dan duduk tanpa bantuan siapa pun. Betapa senang hatiku melihatnya. Tujuh bulan kemudian mulai belajar berjalan. Sepuluh bulan: sudah lancar berjalan dan satu tahun usianya ia sudah bermain sepak bola. Tentu saja sendirian. Usia tiga tahun sudah dapat mengendarai sepeda beroda dua, walaupun sebelumnya pernah jatuh ke selokan kecil samping rumahku.
Sekarang ia sudah lima tahun. Sudah dapat membaca dengan lumayan lancar. Sudah lulus Iqra 4. Rangking pertama di kelasnya.
Sekarang, sedang bermain di luar dengan teman-temannya.
Selamat ulang tahun anakku. Semoga hidupmu bahagia dan membahagiakan semua yang hidup. Maaf, bapakmu ini belum dapat memberikan apa pun padamu.
Kamis, 17 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar